FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NURUL HUDA

OKU TIMUR, 22 Februari 2026 — Universitas Nurul Huda (Unuha) menerjunkan tim khusus ke Lombahan Balak (Griyo Agung) Tanjung Kukuh, Semendawai Barat, guna memantapkan Studi Komering. Kunjungan ini merupakan langkah strategis dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat posisi Desa Tanjung Kukuh sebagai kandidat Desa Budaya dan pusat penelitian budaya Komering di Kabupaten OKU Timur. Wakil Rektor IV Unuha, Dr. Ade Rosad, M.Pd.I., memimpin langsung delegasi ini. Tim beranggotakan jajaran akademisi dan praktisi, di antaranya Lailatul Fitriyah, M.Pd. (Dekan FIP), Puji Adi Pertiwi, M.Pd. (Ketua Pusat Kajian Komering), Dedy Mardiansyah, M.Pd. (Inisiator Pusat Kajian Komering), Drs. Ahmad Rapanie Igama, M.Si. (Budayawan Sumsel & Pelestari Aksara Ulu), Taufik Wijaya (Budayawan & Kontributor Mongabay), Lisa Mariyantika, S.Pd., (Staf Rektorat) serta empat orang mahasiswa yaitu Jenita Sari, Rosmina Harahap, Rizki Wirayuda dan Khairul Razikin.

Kedatangan tim disambut hangat dalam suasana kekeluargaan oleh keluarga besar Yayasan Lombahan Balak Tanjung Kukuh. Pembina Yayasan, Kiai Tuan Rizal Muda, bersama Ketua Yayasan, Bapak M. Daud, SE., M.Pd., menerima langsung kunjungan tersebut di pusat adat yang dikenal sebagai salah satu ruang budaya paling aktif di wilayah Komering itu.
Melalui dialog terbuka, pihak Lombahan Balak menyatakan dukungan penuh terhadap riset yang dilakukan Unuha. Pertemuan ini menandai kolaborasi produktif antara komunitas akademisi dan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur.
Dalam sambutannya, Dr. Ade Rosad menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjaga identitas bangsa. “Pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, tetapi juga tanggung jawab akademisi. Perguruan tinggi harus hadir untuk mendokumentasikan, mengkaji, dan memperkuat nilai-nilai budaya sebagai kekayaan peradaban,” tegasnya.

Agenda utama kunjungan dilanjutkan dengan pengambilan data riset melalui dialog interaktif yang dipandu oleh Taufik Wijaya. Diskusi ini berhasil menggali makna dan praktik budaya Komering langsung dari ruang hidupnya.
Taufik menyoroti pentingnya mendekonstruksi stigma negatif yang selama ini kerap melekat pada masyarakat Komering. “Sering kali budaya Komering disalahpahami dan dikaitkan dengan hal negatif. Padahal, Komering memiliki values, wisdom, dan filosofi hidup yang sangat mendalam,” ujarnya. Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan prinsip Alam Takambang Jadi Guru. Seperti filosofi Minangkabau tersebut, ia memandang budaya Komering sebagai ruang nilai dan kebijaksanaan yang diwariskan lintas generasi. Pandangan ini diperkuat oleh tokoh budaya setempat yang menjelaskan bahwa budaya Komering tecermin nyata dalam cara masyarakat merajut hubungan sosial dan memahami alam.

Kunjungan ini tak hanya menjadi bentuk pengabdian akademik, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Melalui observasi dan interaksi langsung, para mahasiswa dapat mendalami potensi pengembangan daerah berbasis kearifan lokal.
Dengan inisiatif ini, Unuha menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah yang berpijak pada pelestarian budaya daerah sebagai fondasi kemajuan. (rizki)





